Garut
Ketika kita mendengar kata garut, mungkin kita teringat pada satu makanan yang manis sekali, kita mengenal nya dengan nama Dodol Garut. Banyak yang belum tahu, kalau selain dodol, garut juga memiliki potensi wisata yang bisa dikatakan gak kecil.
7 Nov 2009 kemarin saya bersama @matriphe memutuskan untuk Ndoyok ke Garut. Kita belum pernah kesana, belum tau medannya *halah* belum tau kaya gimana bentuk kotanya. Dalam khayalan saya, Garut walaupun bukan ibukota tapi merupakan kota yang besar. Saya tidak terlalu salah sih, ketika turun kendaraan umum sudah banyak, jalan juga udah diaspal, walaupun tidak sebesar yang saya bayangkan.
Dari Lebak Bulus ke Garut membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam. Bis kami mengantarkan kami ke terminal Garut. Sesampainya disana, kami pun mulai kelimpungan, bingung mau kemana dan naik apa. Kami memutuskan untuk mencari penginapan. Dari 108 kami mendapatkan dua buah nama hotel, dari dua itu, satu sudah gulung tikar, syukurlah hotel satu lagi masih buka *loh*. Hotel Augusta itu berada di Cipanas, tarif nya cukup murah, sekitar 350rb permalam, dan room service nya juga lumayan. Jika dari terminal Garut itu berarti naik dari 03 terus turun di simpang lima lanjut naek 04.
Setelah Check In, kami lagi – lagi belum memutuskan mau kemana. Setelah diskusi dengan room boy nya, rencana ke papandayan ditunda sampai besok pagi, untuk hari ini kami memutuskan untuk ke Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang adalah Candi Hindu yang teramat jarang ditemukan di Jawa Barat. Candi ini terletak di pulau yang berada di tengah Situ Cangkuang. Situ Cangkuang terletak di kabupaten Leles. Jika dari tempat kami menginap naik 04 sampai di pertigaan kedua, lalu lanjut angkot 010 jurusan leles. Turun di alun alun Leles. Jangan membayangkan Candi ini seperti Borobudur, atau Candi – candi yang besar lainnya. Sesampainya di Situ Cangkuang menggunakan andong, kami masih harus menyebrangi Situ menggunakan perahu tradisional yang disebut Kretek. Perahu ini menggunakan bambu panjang, memiliki atap dan tempat duduknya pun berhadap-hadapan, didorong oleh bambu yang cukup panjang untuk kedasar Situ. Situ ini sendiri dalamnya 2m , menjadi 1.5m setelah abu vulkanik masuk ke dalam Situ.Di tengah pulau itu, ada juga kampung adat pulo, saat kami kesana, kampung adat itu sepi atau mungkin penghuninya berada di dalam.
Esok harinya, kami pagi pagi bergegas untuk pergi ke Papandayang, setidaknya sebelum matahari tepat di atas kepala kami, karena selain panas bener, cahayanya juga gak pas buat kami kami yang lagi belajar photography. Kami pun berhasil sampai jam 10, walaupun sudah mulai panas tapi tidak sepanas ketika jam 12. Dari tempat kami menginap kami menggunakan 04, kemudian turun di Simpang Lima, dari sana naik Elf jurusan Cikajang, turun di desa Cisurupan, dan lanjut naik Ojek ke Pos. Dari Pos ke kawah papandayan sebenarnya bisa saja menggunakan jalur wisata, yaitu jalur yang memang sudah disiapkan untuk para wisatawan. Jalurnya pun hanya lurus, melewati bekas longsoran dari Gunung Papandayang ketika meletus 2002 kemarin. Tapi kami memilih menggunakan pemandu yang tersedia disana. Oleh pemandu kami diajak menaiki jalur yang sedikit (eh sedikit? banyak) sulit, jalur itu menggunakan jalur setapak menuju ke puncak salah satu bukit / gunung di sana. Jalurnya bukan main – main, selain batu, dan kadang melalui jurang — yang kalau kepeleset mungkin saya gak bisa nulis entry blog ini –. Tapi ketika sampai di puncak bukit, semua kerja keras naik itu terbayar dengan view yang luar biasa Gunung Papandayan, hamparan longsoran yang menimbun serta gunung Ceremai di kejauhan. Papandayan sendiri mempunyai dua kawah, salah satu kawahnya baru terbentuk tahun 2002.
Puas dengan Papandayan, kami memanjakan diri dengan berendam di kolam air panas Cipanas Garut — hampir semua wisata air panas di Jawa Barat bernama Cipanas, mungkin karena Ci itu Cai yang berarti air dalam bahasa Sunda –, berendam di air panas konon katanya bisa membantu menyembuhkan beberapa penyakit.
Selesai berendam, berarti saat nya kami harus pulang ke Jakarta, dan berakhir pula Ndoyokan kami.
Itinerary nya perjalanan ke Garut itu
- Bis dari Lebak Bulus Garut : Rp 35.000,-
- Angkot dari Terminal Guntur menuju ke Penginapan : Rp 4.000/each
- penginapan Rp 350.000 / Night
- Angkot dari penginapan menuju ke Candi Cangkuang Rp 12.000,- / each PP
- Dari alun alun Leles menuju ke Cangkuang pulang pergi sekitar: Rp 40.000,-
- Dari pinggir Situ ke Pulau Rp: 15.000,-
- Angkot ke Cisurupan : Rp 14.000 / each
- Cisurupan ke Pos Pengamatan Papandayan : Rp 30.000 / each PP
- Guide : Rp 50.000
- Cisurupan ke garut kota : Rp 14.000 / each
- Garut Kota – Cipanas : Rp 2.000 / each
- Aqua medic Pool Tirtagangga : Rp 25.000 / each
- Cipanas – Simpang Lima : Rp 2.000 /each
- Simpang Lima – Terminal Guntur : Rp 2.000 /each
- Terminal Guntur – lebak bulu : Rp 35.000 /each



woogh!! jalan2 hemaaaaattt :))
wogh… segitu hemat ya?? :shock:
kalo menurut eike 350rb buat ndoyok msh kemahalan prie :) ..tp salut buat kalian ndoyok-ers :D
meh! kalo nginep di hotel mah bukan ndoyok! wisata itu namanya :twisted:
Hooo…maen ke Candi Cangkuang juga rupanya. Tapi lagi mendung ya? Padahal bagus banget kalau langitnya cerah, kayak gini nih
http://wijna.web.id/260-Candi-Cangkuang.html
kl jalan2, ajak2 dong pri.. pgn seru2an :D
Ndoyok kok nginep di penginapan Rp 350.000 / Night
penginapannya mahal :P
kalau ke garut, jangan lupa hubungi komunitas asgar muda. Bakal banyak dapet yang sangat berharga dari garut lewat informasi yang mereka kasih.. hehe disamping itu bisa tanya klo diskon2an hotel yang murah, makanan yang enak dan legenda… (itu yang saya lakukan pas ke garut)
My recent post In the name of WordPress