Zona Nyaman

Ada seorang sahabat, saat semester 4 , mendadak dia gelisah. Gelisah karena khawatir dia tidak bisa melanjutkan kuliah lagi, karena problem keuangan. Saat itu dia mengambil sebuah keputusan penting dalam hidup nya, yaitu cuti kuliah untuk mencari kerja. Dan dia kemudian dapat kerja sebagai seorang surveyor motor dari sebuah perusahaan finance terkenal. Saat itu sebenarnya saya khawatir dia keasikan kerja, sehingga kuliahpun tak sempat. Dan itu pun kejadian, dia tidak bisa melanjutkan kuliah karena kesibukannya. Sekarang, dia sudah menjadi salah satu manajer di perusahaan tersebut, jabatan yang di peroleh nya dari hasil kerja keras, bukan ijasah. Dia membuktikan bahwa walaupun berbekal ijasah SMEA, seorang bisa menjadi ’seseorang’ . Dia keluar dari zona nyaman saat itu, lalu berani mengambil resiko, sekarang keputusan yang di ambil nya telah menjadikan dia seorang Sarjana Ekonomi — bukan seorang sarjana komputer — dan sedang mendalami magister manajemen. Dengan kerja keras nya dia bisa membuktikan bahwa keputusan yang di ambil nya adalah benar.

Dia berani keluar dari zona nyaman nya, dan berhasil.

Kawan, kadang kita terlalu terlena dengan zona yang kita anggap aman. Dengan dukungan finansial yang cukup , dengan suasana kerja yang nyaman. Tapi kadang hal itu mengorbankan satu hal dari kita, yaitu Mimpi. Terkadang kita menganggap mimpi itu hanyalah mimpi kita saja, angan - angan belaka, tak mungkin jadi kenyataan, kita seakan kehilangan jati diri karena kehilangan mimpi itu.

Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?

(Pramoedya Ananta Toer)

Satu lagi yang hilang adalah Idealisme, terkadang untuk memenuhi kebutuhan , kita mengorbankan apa yang kita sebut idealisme. Idealisme ini relatif , karena idealisme orang berbeda. Idealisme ini juga yang membuat saya meninggalkan pekerjaan saya di perusahaan multinasional ke sebuah perusahaan IT Consultant yang kecil, tapi masih berkembang. Walaupun idealisme itu bukan satu - satu nya alasan saya meninggalkan pekerjaan itu. Bagi saya, yang sering menyarankan orang untuk bermigrasi ke Linux , aneh rasanya jika saya menyuruh orang pakai Linux tapi saya sendiri tidak pake, menyuruh orang untuk memakai software legal tapi saya menggunakan software illegal. Di perusahaan yang lama, saya memakai windows 2000 dan office 2003 yang asli, tapi tetap, something is not right.

Jadi, beranikah kita untuk keluar dari zona nyaman kita, untuk mengejar cita - cita dan mimpi, serta berusaha untuk mempertahankan yang namanya idealisme.

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudra, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya

(Pramoedya Ananta Toer)

8 Comments

  1. indrio 2008-05-5, 4:09 pm

    wah gw pengen tau neh pendapat prof soal idealisme saat nanti dia udh kawin, masih sama ngga ya dengan sekarang ? :-d

    Kalo menurut gw, yg penting itu bukan idealisme, but lebih kepada “menempatkan sesuatu ditempat yg tepat”.

    Misalnya soal produk teknologi, saat ini saya pikir udh bukan jamannya lg kita bicara soal idealisme, namun lebih kepada kegunaan teknologi itu bagi hidup kita.

    indrio’s last blog post..Woro .. woro …. pelatihan ngeblog GRATIS ada disini

  2. suprie 2008-05-5, 4:46 pm

    put the right thing on the right place yah… mmm … ntah lah. hahahahaha

  3. cempluk 2008-05-5, 7:08 pm

    saya jadi inget nasehat temen cempluk, yang memberitahukan bahwasanya orang sukses itu harus berpikir think out of the box..keluar dari kotak nyaman ke zona tidak nyaman, namun hasil nya akan terasa di akhir…meski terkadang utk membuktikan secara nyata di lapangan terkadang banyak hambatannnya… :)

    cempluk’s last blog post..Si Cempluk sakit ngidam burger

  4. Rindu 2008-05-5, 8:26 pm

    *merenung ….* sudahkah saya keluar dari zona nyaman saya :)

  5. eve 2008-05-6, 3:42 pm

    Saya pikir kita nggak bisa begitu saja melihat masalah ini dengan begitu simplenya. Kita harus makan, bung. Dan idealisme belum tentu bisa kasih makan. Keluar dari zona nyaman, dengan penghasilan cukup dan suasana kantor yang kondusif, untuk mengejar mimpi. Kalau ternyata mimpi tidak seindah kenyataan yang sudah ada? Apa nggak mempertaruhkan semua hal baik yg kita punya for nothing? Sementara itu, dapur harus ngebul. Dan kalau mengejar mimpi berarti kita harus mulai lagi dari bawah, maka apa yang mau kita pakai buat mengebulkan dapur?

    Duh.. curhat colongan nih kayanya. :)

    eve’s last blog post..manusia setrikaan (IRONMAN)

  6. ario dipoyono 2008-05-6, 5:00 pm

    Idialisme mencerminkan diri kita yang sesugguhnya pada orang lain… betul gak

  7. dadan 2008-05-7, 10:07 am

    sebenarnya, idealisme lah yang mengantarkan manusia pada titik budaya dan teknologi hingga saat ini

    bayangin kalo jaman dulu semua orang berpikir dalam kotak realistis masing-masing… :D gak bakal ada pesawat terbang, lampu listrik, telepon, dsb

    IMHO:
    idealisme lah yang mengantarkan orang pada puncak prestasi/suksesnya
    sementara realistis yang membuat orang mampu survive

    dadan’s last blog post..Daus’s Syndrome

  8. natazya 2008-05-27, 5:22 pm

    keluar dari zona jaman itu ga akan pernah enak dan gampang…

    saya belum berani

    padahal mungkin seharusnya sudah nyoba…

    ah…

    nanti deh ^_^

    natazya’s last blog post..Nasionalis itu…

Add a Comment