Mengapa harus membajak ???

Tertarik dengan tulisan ini , ada beberapa point yang saya kurang setuju.

1. Karena sumberdaya iptek tidak semestinya dikomersialisasikan…

Kurang setuju !!!. Sumberdaya IPTEK saya rasa bebas saja di komersialisasikan, banyak koq produk open source yang komersial, sebagai gantinya mereka memberikan support dan garansi, klo gak komersial, bagaimana Kuli - kuli IT kaya saya mencari duit :p . Dengan Microsoft, berbeda soal, Microsoft bukan hanya mengkomersialisasikan produk mereka, tapi mereka juga mengunci ide, jadi gak ada ide yang dapat ditiru! kita menyebutnya dengan proprietary, Kekayaan Intelektual yang mereka punyai mereka simpan untuk diri mereka sendiri, dengan berbagai lisensi. Sah ? bagi saya itu sah saja, tapi jahat ? iya, mereka jahat. Dengan begitu programmer yang lebih jago tidak dapat memaksimalkan kerja mereka, karena algoritma nya telah di patenkan oleh vendor software, dan negara berkembang seperti kita tidak dapat mempelajarinya, menyebabkan ketergantungan pada mereka — Vendor - vendor software –.

2. Kita negara berkembang, kalau kita ‘taat’ memakai software komersil legal, sampe kapanpun kita akan jadi konsumen yang tergantung dengan produk mereka.

Iya, karena itu gunakan lah Free / Open Source Software !!! karena dengan software opensource, negara kita dapat bersaing dalam bidang IT, tidak ada ide yang di kunci, semua terbuka dan bisa di pelajari. Bisa saja kita mendirikan perusahaan IT yang support ke produk Open Source, seperti hal nya Linux. Memakai bajakan bukan nya jalan menuju negara yang dapat mandiri. Jika kita ingin negara yang mandiri, melepaskan diri dari Vendor Lock , makanya mulai mengembangkan software Free / Open Source Software adalah salah satu jalannya, dan jika kita masih memakai produk mereka, walaupun bajakan, kita masih bergantung pada mereka.

3. Sekali lagi kita negara mis… eh… berkembang, meski berhadapan dengan tingginya pembajakan dibeberapa negara (rusia, cina, indonesia, vietnam dll) Microsoft (dan partner2nya) sudah cukup mengeruk keuntungan. Mereka tetap untung kok meskipun pembajakan di negeri ini tinggi. Anggap saja itu kompensasi dari sumberdaya alam kita yang sudah di keruk habis-habisan oleh US dan negara maju lainnya.

Saya rasa itu hanya lah pembenaran dari pembajakan. Kita sama - sama tahu, klo kita pake barang haram, apa pun bentuk nya tetap haram, dan pembajakan adalah pencurian. Itu sama saja jika ada orang yang mencuri dari rumah kita, lalu pencurinya bilang, “ah orang itu cukup kaya koq, mereka masih bisa membeli barang yang lain”, tapi tetap saja judul nya pencuri. Karena kita merujuk pada perbuatan bukan alasan. Ingat!!, walaupun dalam bentuk apapun dan alasan apa pun, di agama apa pun, mencuri adalah dosa hukumnya.

4. Ini logika ekstrim saya satu lagi, Rata2 produsen software komersil (terutama lingkaran microsoft) termasuk dalam daftar penyumbang Israel yang notabene sebagian digunakan untuk membeli peluru yang diarahkan pada saudara-saudara saya seiman di Palestina. Dengan saya menggunakan software bajakan, maka saya ikut membantu mengurangi jumlah peluru yang digunakan untuk membunuh muslim di palestina tersebut… (ngghhh… i guess?)

Ada baiknya jika kita menuduh seseorang atau sesuatu kita harus bisa juga memberikan fakta, bukan dugaaan atau asumsi. Maka saya tidak mau ikut - ikutan poin yang terakhir karena saya juga belum punya bukti yang mendukung ataupun yang menyangkal. Saya usahakan selalu memakai produk Free Open Source Software , karena itu adalah pilihan saya, jika saya ingin menggunakan produk - produk proprietary saya usahakan yang legal.

Jika kita mulai menggunakan Free Open Source Software, seengganya kita akan :

  1. Ikut mendorong pertumbuhan IT di Indonesia.
  2. Seengganya kita tahu kalau kita pake FOSS apa lagi yang lokal, duit yang kita bayarkan tidak akan lari ke negara lain, misalkan seatu hari nanti Blankon dapat memberikan service dan support, duit tidak akan lari keluar negeri, dan itu juga mendorong tumbuhnya perusahaan yang sejenis.

Segitu aja dulu, pendapat saya tentang post nya. Jika ingin berdiskusi silahkan, ini pendapat pribadi, tapi saya rasa masih bisa di debat, i’m just human afterall.

Wabiltaufiq wal hidayah,

Wassalamualaikum wr wb

6 Comments

  1. Ardee'est Things in 2008-05-5, 3:50 pm

    “Kurang setuju !!!. Sumberdaya IPTEK saya rasa bebas saja di komersialisasikan, banyak koq produk open source yang komersial, sebagai gantinya mereka memberikan support dan garansi, klo gak komersial, bagaimana Kuli - kuli IT kaya saya mencari duit”
    Sepakat… sampai batas2 tertentu. Tentu saja orang berhak untuk mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup dari hasil kerja kerasnya… tapi Korporasi macam Microsoft beda cerita. Mereka menempatkan kita sebagai user dan diposisikan senantiasa sebagai pihak yang tergantung pada mereka.
    Seperti juga orang nulis buku, saya sepakat dengan konsep royalti sampai dibatas bahwa royalti tersebut bisa membuat si penulis dan keluarga bisa tetep hidup (earn for living) sehingga si penulis bisa fokus menghasilkan karya2 baru untuk masyarakat. Tapi jika kemudian ada pengerukan keuntungan berlebihan (sekali lagi ‘berlebihan’) yang membuat hanya segelintir masyarakat yang bisa mengakses ilmu pengetahuan, dan kreasi iptek tersebut jadi barang mewah, menurut saya itu sudah melanggar hak dasar manusia. Konsep opensource dan GPL berusaha untuk mereduksi eksklusivitas ilmu pengetahuan itu, dan saya SETUJU. Bagi saya, yang saya tolak itu korporasinya!

    “Iya, karena itu gunakan lah Free / Open Source Software !!! karena dengan software opensource, negara kita dapat bersaing dalam bidang IT, tidak ada ide yang di kunci, semua terbuka dan bisa di pelajari. Bisa saja kita mendirikan perusahaan IT yang support ke produk Open Source, seperti hal nya Linux. Memakai bajakan bukan nya jalan menuju negara yang dapat mandiri. Jika kita ingin negara yang mandiri, melepaskan diri dari Vendor Lock , makanya mulai mengembangkan software Free / Open Source Software adalah salah satu jalannya, dan jika kita masih memakai produk mereka, walaupun bajakan, kita masih bergantung pada mereka.”
    Ya… sepakat. Tapi, sejujurnya kita harus mengakui untuk beberapa kebutuhan, ada yang belum dapat tergantikan/tersubtitusi oleh software2 tersebut. Saya ambil contoh penerbitan buku, saya belum menemukan padanan untuk software semacam pagemaker atau InDesign. Padahal sumber literatur/informasi lokal merupakan kebutuhan utama agar taraf pendidikan negeri ini maju. Parahnya lagi , masih banyak masyarakat kita yang belum melek internet sehingga literatur hardcopy masih tidak tergantikan. Kalau kita ‘taat’ lisensi komersil, hanya segelintir penerbit yang bisa menerbitkan buku di indonesia ini. Akibatnya yang terjadi adalah monopoli didunia penerbitan dimana segelintir penerbit tadi dapat sesuka mereka menentukan harga buku di pasaran.

    “Saya rasa itu hanya lah pembenaran dari pembajakan. Kita sama - sama tahu, klo kita pake barang haram, apa pun bentuk nya tetap haram, dan pembajakan adalah pencurian. Itu sama saja jika ada orang yang mencuri dari rumah kita, lalu pencurinya bilang, “ah orang itu cukup kaya koq, mereka masih bisa membeli barang yang lain”, tapi tetap saja judul nya pencuri. Karena kita merujuk pada perbuatan bukan alasan. Ingat!!, walaupun dalam bentuk apapun dan alasan apa pun, di agama apa pun, mencuri adalah dosa hukumnya.”
    Saya menganalogikan membajak (khusus software komersil, BUKAN kekayaan intelektual semacam multimedia) bukan sebagai mencuri… tetapi merebut kembali ‘kemerdekaan’ kita (ngh… oke lah, saya..!! hehehe) yang terampas oleh komersialisasi software tersebut oleh korporat Microsoft Cs itu. Mungkin cuma paranoia saya saja jika kondisi ini saya anggap sebagai konspirasi Negara-negara maju (Neo Liberal) untuk tetap menjadikan negara ketiga senantiasa ada di bawah ketiak mereka…
    Ok, bagi rekan-rekan yang cukup melek koding dan akrab dengan bahasa pemrograman masalah tersebut ‘not a big deal’, tapi bagi orang awam semacam saya dan ~entah berapa puluh juta~ masyarakat Indonesia yang lain, It’s a big deal. Kalo produk [software] bajakan itu nggak bisa kita akses, mau kapan kita beranjak dari zaman batu?

    “Ada baiknya jika kita menuduh seseorang atau sesuatu kita harus bisa juga memberikan fakta, bukan dugaaan atau asumsi. Maka saya tidak mau ikut - ikutan poin yang terakhir karena saya juga belum punya bukti yang mendukung ataupun yang menyangkal. Saya usahakan selalu memakai produk Free Open Source Software , karena itu adalah pilihan saya, jika saya ingin menggunakan produk - produk proprietary saya usahakan yang legal.”
    Ok, nyerah… saya juga nggak yakin dengan logika saya itu kok. So, saya salah dan menunda statement saya itu sampai ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Terimakasih atas responsnya…
    Senang berdialektika dengan anda…

    Ardian Perdana Putra

    Ardee’est Things in’s last blog post..Hancurlah PKB… PDIP & GOLKAR kapan nyusul…

  2. indrio 2008-05-5, 3:51 pm

    Setiap orabg boleh aja punya pendapat yang berbeda soal topik ini. bahkan saya jg punya pendapat yg berbeda dengan prof dan ardi. but nda mungkin dibahas di kolom komentarkan :-d

    Walau begitu, menurut saya pendapat prof dan ardi sama2x betul kali dilihat dari kacamata yg berbeda.

    indrio’s last blog post..Woro .. woro …. pelatihan ngeblog GRATIS ada disini

  3. Ardee’est Thing in My Life » » Kenapa kita harus [tetep] pake sofware bajakan (2) 2008-05-5, 3:59 pm

    [...] tanggapan dari tulisan Mas Suprie dan Mas [...]

  4. suprie 2008-05-5, 4:04 pm


    Saya ambil contoh penerbitan buku, saya belum menemukan padanan untuk software semacam pagemaker atau InDesign

    Ada scribus, saya rasa semua software proprietary ada padanannya di opensource, simple, karena mereka juga membutuhkan software tersebut, kecuali aplikasi yang emang khusus untuk melakukan satu pekerjaan.

    tetapi merebut kembali ‘kemerdekaan’ kita

    Which freedom, saya rasa jika kita tetap memakai proprietary software, selamanya kita akan terkekang oleh vendor.

    Kalo produk [software] bajakan itu nggak bisa kita akses, mau kapan kita beranjak dari zaman batu?

    jika kita ingin maju, saya rasa kita harus mulai dari FOSS, bukan dari bajakan :D . Saat ini komunitas Linux sendiri telah berusaha semampu mereka untuk menyediakan Distro Linux yang user friendly dan murah, mereka mengharapkan agar Linux dapat di gunakan oleh masyarakat luas, bukan dari kalangan techie saja.

    Terimakasih atas responsnya…
    Senang berdialektika dengan anda…

    Sama - sama :p

  5. suprie 2008-05-5, 4:05 pm

    @indrio
    ok, di tunggu yah … :d

  6. nindityo 2008-05-20, 1:51 pm

    piracy is crime. cukup.
    ini soal karya cipta. jika ngomongin mahal murah, ya jangan beli kalo mahal, cari yang murah.
    kalo soal kita masih miskin, ya pake yang open source.
    kalo kita tetap bandel ya silaken kriminal, tapi tetep jangan dukung pembajakan.
    silaken pake software bajakan, tapi diem saja. jangan ajak-ajak. apalagi anti sama software asli. nanti kalo udah semepet ngalamin di copy paste tulisannya ato dibajak hasil karya kita baru deh kerasa nyeseknya.
    terlepas dari itu, pendapat mas suprei bagus banget, jangan lepaskan kemerdekaan kita. jika tidak mau terikat, gunakan open source.

    nindityo’s last blog post..Tolong aku kawan dan atau tolonglah dia juga

Add a Comment