10.12.07
Laskar Pelangi - Andrea Hirata
Awal dari keinginan membaca buku ini adalah waktu temen bilang have to read bagus banget, sampe akhir nya waktu gajian bisa kebeli juga bukunya
“Laskar Pelangi” karya Andrea Hinata. Konon katanya kisah ini adalah sebuah kenangan masa kecil dari si penulis sendiri.
SD Muhammadiyah
Adalah sebuah SD di kampung belitong, tempat tinggal penulis, dimana keadaan nya sangat mengkhawatirkan, tipikal SD SD yang ada di kampung, hampir tak terawat kecuali memang ada sukarelawan yang mau merawat nya.
Kisah “Laskar Pelangi” di awali dari SD ini, berawal dari penerimaan siswa baru, saat penerimaan siswa baru ini SD tersebut hanya dapat 9 Siswa, kurang satu untuk dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar, orang sana menganggap kalau sekolah hanya menghabiskan biaya, dan waktu, alih alih mengirim anak mereka sekolah , lebih baik jika anak mereka membantu bapak nya untuk menopang biaya sehari hari.
Laskar Pelangi
9 Siswa tersebut adalah ‘Aku’ , Mahar, Lintang, Samson, Sahara, A Kiong , Syahdan, Trapani, dan Harun Kucai . Lalu di detik2 terakhir muncul lah kucai Harun yang mempunyai keterbelakangan mental. Mereka adalah siswa - siswa yang mempunyai kemauan belajar yang cukup tinggi , dan orang tuanya sebenernya berat melepas mereka untuk sekolah. Salah satu yang mempunyai semangat belajar membara adalah Lintang, Lintang adalah seorang anak yang berperawakan pendek , mempunyai mata jernih , dan otak yang cemerlang. Dia harus menempuh sekitar 60 40 Km setiap hari untuk dapat kesekolah, di perjalanan dia dapat bertemu dengan buaya atau menghadapi jalanan yang kurang bersahabat apalagi setelah hujan.
Mereka mendapat julukan laskar pelangi karena mereka suka duduk diatas pohon fillicium

Khususnya setelah hujan, mereka kan berlari kesana untuk kemudian memanjat ke dahan pohon tersebut untuk kemudian duduk melihat pelangi.
Pada kisah awal buku ini diceritakan semua sifat yang terlihat dari laskar pelangi ini kecuali Mahar dan Lintang, mereka berdua sangat istimewa dan memerlukan satu bab tersendiri untuk menceritakannya. Lintang adalah anak jenius didikan alam, otak kiri nya seperti tak pernah berhenti untuk mencari tahu dan berpikir, sedangkan Mahar adalah seniman yang berbakat, dia adalah seorang yang sangat berbakat dalam seni. Lintang dan Mahar adalah sepasang jenius yang saling melengkapi.
Lalu kisahnya pun berlanjut saat ‘Aku’ mulai merasakan jatuh cinta pada seorang gadis tionghoa anak pemilik toko kelontong, yang tanpa sengaja berpapasan di toko tersebut saat gadis tersebut tanpa sengaja menjatuhkan kapur yang di beli oleh ‘Aku’, rupanya pertemuan itu adalah sebuah momen penting yang mengubah hidupnya. Setelah beberapa lama berusaha, akhirnya sang gadis yang ternyata bernama A Ling ingin bertemu juga dengan ‘Aku’ di sebuah acara yang bernama ‘Sembahyang Rebut’ walaupun singkat tapi pertemuan itu sangat bermakna, walaupun akhirnya mereka harus di pisahkan karena A Ling harus berangkat ke jakarta untuk menemani bibi nya. Perpisahan itu membawa dampak yang sangat tragis ke dalam kehidupan ‘Aku’ , A Ling hanya menyisakan sebuah buku dan sebuah diary, diary yang berisi puisi yang ‘Aku’ tulis ke A Ling, dan buku yang ditinggal kan A Ling ternyata adalah sebuah obat penawar dari kehancuran hatinya.
Saat beranjak dewasa, laskar pelangi pun bertambah seorang anggota lagi yang bernama Flo. Anak seorang petinggi di daerah itu yang ingin masuk ke SD Kampung karena ingin bertemu dengan Mahar setelah laskar pelangi menyelamatkan nya saat tersesat di hutan. Flo merupakan perempuan kedua setelah Sahara.
Lalu di bab terakhir diceritakan bagaimana nasib nasib laskar pelangi setelah 12 Tahun kemudian. misalkan Sahara yang akhirnya menikah dengan musuh bebuyutannya yang tak lain adalah A Kiong. ‘Aku’ yang hanya menjadi tukang pos yang selalu mendapat shift pagi , atau Lintang yang terpaksa menjadi kuli karena kekurangan biaya dan harus menopang biaya hidup keluarganya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan buku ini bagus, karena menceritakan perjuangan laskar pelangi dalam kesederhanaan dan keterbatasan, di SD Kampung yang serba terbatas tersebut mereka mendapatkan tak hanya sekedar pendidikan tapi sebuah pengalaman dan juga kenangan dari masa kecil yang indah. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan tidak akan menghalangi pendidikan atau pun kreativitas.
Walaupun terbilang bagus ada beberapa hal yang harus di garis bawahi dari buku ini…
1 . Penggunaan istilah ilmiah dalam cerita ini sangat banyak, membuat kita berpikir bahwa si Penulis adalah seorang sarjana biologi, atau fisika, dan sangat kebarat-baratan
2 . Alur yang loncat2, novel ini mempunyai alur yang sangat susah di tangkap. Kadang si penulis bercerita tentang flashback sedikit kebelakang, dalam flashback itu juga di ceritakan kisah masa depan , dan kemudian tiba2 balik di alur semula.
3. Tokoh utama yang sedikit ambigu, jika di perhatikan secara seksama maka di dalam novel ini tak ada satupun nama dari tokoh utama, selalu dengan sebutan ‘Aku’ atau si Ikal, tapi kemudian di Bab Terakhir si Ikal menjadi orang ketiga. Jika kisah ini adalah kisah nyata, kisah nyata nya siapa ? Mahar kah ? atau si Ikal kah, mungkin akan terjawab di buku kedua.
4. To Good To Be True, khususnya mengenai Lintang, kejeniusan Lintang konon diceritakan sangat berlebihan, di kelas dua saat yang lain masih belajar operasi dasar matematika, lintang sudah dapat menghapal rumus integral dan mampu berpikir out of the box saat di berikan perkalian bilangan ganjil. Dan kejeniusan Mahar masih dapat diterima oleh akal sehat, walaupun masih bingung darimana ia mendapat lagu lagu yang di nyanyikannya sedangkan TV satu satu nya di rumahnya bapak lurah — yang di pakai waktu menonton turnament all England — hanya satu-satu nya , dan dari ceritanya ekonomi mereka sangat terbelakang sehingga untuk membeli sebuat radio transistor dual band saja susah, dan hampir tak mungkin seorang langsung bisa membaca not balok, bahkan Joe Satriani pun ada masa-masa belajarnya. Sedikit susah di bayangkan walaupun masih masuk akal kejeniusan Lintang dan Mahar.
Well segitu aja sih penilaian sayah… gak rugi koq baca buku ini, seengganya bagi saya , buku ini sangat menginspirasikan






Untung dah pake Linux :p
Untung gue pake iMac...
makin asyik euy jd customer cellphone di indo
@made eka tentu
iya nih.. maksa banget biar pake vista.. vista kan berat banget.. klo linux user friendly ga sih??
dikasi gratis kok gak mau ya... payah.
gak ngaruh ah...... Hidup mikrotik! *harah* .::he509x™::.
seprtiny dri quh prnah mrasakanny dwegh' but..' dri situlah aquh bs mrasakan indahny dunia, yg blum
Lalu bagaimana nasib para konsumen yang cinta mati dengan Windows XP? Kalo udah cinta windows berart
sama neh udah kena usus buntu. perlu dioperasi secepatnya.